Rabu, 28 Oktober 2009

Nikah Non-Kristen, Mati Ingin Cara Kristen

Nikah Non-Kristen,  Mati Ingin Cara Kristen.jpg

Pdt. Bigman Sirait

Pak Pendeta yang terhormat, paman saya saat ini sedang dilanda kebingungan. Ceritanya begini: Paman saya berusia sudah lebih 60 tahun, dan tidak punya anak. Kira-kira satu tahun setelah istrinya meninggal, dia menikah dengan seorang janda beragama non-Kristen. Mereka menikah menurut tatacara agama istri barunya itu. Meski secara administratif paman saya sudah menjadi penganut agama lain, namun dalam prakteknya dia masih Kristen, suka berdoa, sering ke gereja. Konon, paman menikah dengan wanita lain iman, lantaran saat itu dia sedang frustrasi dan kecewa karena Tuhan “mengambil” istrinya, dan mereka tidak dikaruniai keturunan.
Kini, di kala usia paman sudah sepuh dan sakit-sakitan, dia resah membayangkan dirinya kalau nanti mati dikuburkan secara agama istrinya itu. Paman saya sendiri ingin dikubur secara Kristen. Tapi, apabila dia dikubur secara Kristen, tentu pihak keluarga istrinya tidak akan setuju, sebab mereka tergolong fanatik, dan akhir-akhir ini mulai mempertanyakan keberimanan paman saya itu. Pak Pendeta, apa yang harus dilakukan paman saya itu? Terima kasih.
Lukas
Jakarta

LUKAS yang dikasihi Tuhan, ada beberapa aspek yang harus kita perhatikan dengan cermat, dalam kasus yang kamu tanyakan ini. Pertama adalah kesa-daran akan konsekuensi dari se-buah keputusan. Paman Anda ha-rus menyadari bahwa situasi sulit yang muncul ini adalah sepenuh-nya akibat pilihan yang dibuatnya di waktu lampau. Bahwa dia meni-kah dengan orang yang berbeda agama, dan juga menikah secara agama yang diyakini istrinya. Maka, itu berarti dengan sadar dia telah membuat sebuah keputusan yang sah dan berkekuatan hukum. Se-cara hukum dia adalah seorang sua-mi dari istrinya yang sekarang, dan dia menyatakan diri sebagai seor-ang yang seiman dengan istrinya. Semua fakta ini pasti ada dalam bentuk surat tertulis dan legal. Jadi, paman kamu harus menerima kenyataan selama dia terikat dalam pernikahannya yang sekarang, dia adalah seorang yang beragama sama dengan istrinya.

Bahwa dulu dia meninggalkan kekristenan karena merasa kecewa dengan Tuhan atas meninggalnya istri yang pertama, tentu saja sangat subjektif. Dia telah mem-buat keputusan yang salah, dan baru disadari di kemudian hari. De-ngan keputusan menikahi istri yang sekarang, dalam keimanan yang sama dengan istrinya, maka paman Anda sudah sepantasnya bertang-gung jawab penuh atas kenyataan hidup yang ada. Bertanggung ja-wab atas istri dan anaknya sepe-nuhnya, baik lahir maupun batin, dan dia tak boleh mengabaikan tanggung jawab ini.

Bahwa paman Anda masih hidup secara iman kristiani, yaitu dengan berdoa dan pergi ke gereja, adalah sebuah fenomena tersendiri. Se-orang Kristen, dikatakan Kristen tentu tidak hanya karena dia ber-doa dan pergi ke gereja, melainkan meliputi seluruh aspek hidupnya. Yesus pernah berkata tentang bangsa Israel dalam Matius 15: 8-9, “Percuma bangsa ini beribadah kepadaKu, padahal hatinya jauh daripadaKu”.baca selanjutnya,..
Bookmark and Share

Related post,..

Suseskan "Visit Idonesia Year 2009"
Embed Banner Berikut kedalam blog atau web anda





KLIK GAMBAR DIBAWAH UNTUK MEMPERBESAR FLASH

MATEMATIKA

FISIKA

KIMIA

VIDEO TUTORIAL
RADIO
TV ONLINE
E-LEARNING
GAME
LIVE CCTV
VIDEO KESAKSIAN
Podcast
 

sponsored by | Tabloid Reformata